Primordial





" Apakah karena Dia tak tampak, mata seakan buta,
sementara wajahNya di setiap sudut berada
Apakah karena Dia tak bersuara, telinga seakan tuli,
sementara puja puji bergema di seantero buanaNya."

" Dialah pemilik segala tapi acap lalai terbawa dalam nyata,
Penglihatan dan pendengaran bak tertutup tiada guna,
Ruh tertimbun debu-debu ambisi, nafsu dan prasangka."

" Duhai diri, insan di tanah fana
Tiada guna berkelana bila tak menuju millah 
Keras nian berhajat, ujungnya sia-sia
Meski seisi semesta dipunya, sekelumit pun tiada akan berasa
Walau membusung dada bak hamba tak bercela
Laknat dan murka tak lepas mendera hingga ujung usia
Sebab kesaksian nan terlupa adalah tanda hina dina."

"Qoolu balaa syahidnaa
Ikrar di rahim sang bunda, masihkah terpatri di relung jiwa? "


Primordial
FZMaret-September 2017
Denpasar-Batusangkar-Payakumbuh
#Contemplation # Tafakkur #Muhasabah # Mahabbatullah

Cinta yang Terbelenggu


" Aku tersandung, jatuh dan terperangkap
Terpenjara dalam sel-sel lena tak bermakna
Di kehidupan ramai tapi paling sunyi
Di ruang dipenuhi riuh gelak calon-calon mati
Tempat tiada arti bagi batin mereka yang berisi.

Kapankah aku lepas dari belenggu
Belenggu kuat yang mencekamku mendekatiMu.

Di segenap penjuru hanya wajahMu menghiasi
Setiap terjaga dari mimpi matahariMu menerangi
Aku hidup menghirup udaraMu sepanjang hari
Aku mengurai rezeki berpijak di ardhiMu
Aku berteduh di bawah payung langitMu
Denyut nadi ini sejatinya dari dan untuk diriMu.

Bilakah jalanku sampai pada cintaMu yang sempurna
Langkah kakiku tertahan alibi dunia
Tangan dan anganku panjang hendak menjangkau dunia
Mataku berbingkai tajam tertuju melihat dunia
Pikiranku mendalam memikirkan dunia
Jiwaku tersangkut kasih dan ragam dunia
Detik-detikku tersita untuk dunia.

Dalam poros dan rotasi siang malamMu,
Bilakah dapat aku memuja karena haus dan rinduku,
Karena jiwa dan ragaku terjatuh kepadaMu,
Bukan karena aku hamba dan Engkau Pencipta
Sebab Engkau paling pantas dicinta di atas tiap-tiap yang ada."

FZ, Denpasar, 27/11/16

Tiada Yang Kumiliki


" Tiada yang kumiliki dalam hari-hari
Bahkan tidak dengan wajah dan seperangkat tubuhku
Kerangka atau sarang tempat ruh mendiami
Saripati tersusun indah yang akan lebur menjadi tanah "

" Tiada yang kumiliki dalam kelap kelip bumi
Bahkan tidak dengan kedua orang tua, keluarga dan handai tolan
Tidak pula dengan orang yang kucintai dan mencintaiku
Tidak dengan posisi, hasil jerih payah dan jalan rezeki
Tidak pula dengan penilaian atau gelar yang dianugerahi "

" Tak pernah ada yang kumiliki dulu, kini dan nanti
Tidak dengan atap tempatku bernaung
Tidak juga dibalik kebahagiaan aku berlindung
Tidak dengan pengharapan mimpi-mimpi masa depan
Tidak dengan negeri yang kusinggahi, tempat asa menari
Tidak dengan kebanggaan prestasi-prestasi
Tidak pula dengan kegembiraan memenuhi hati "

" Tiada yang dimiliki melainkan bakti kepada Ilahi
Bagaimana layak diri menyimpan rasa memiliki
Kelak pasti jua yang disenangi satu persatu pergi
Hal ihwal yang dipinjami akan diambil kembali
Tak mungkin kebenaran ini diingkari nurani
Tak mungkin titipan dari Pemberi seolah berganti hak milik pribadi
Kecuali oleh hati yang telah diimami nafsu duniawi "


FZ
Denpasar, 26/10/16

Di manakah kini kerinduan itu?


Di manakah kini kerinduan itu
Saat bulir-bulir bening tak tertampung membasahi pipi
Getaran bersama bisikan lembaran suci dan asmaMu
Lukisan kuat nikmat tak bertepi dariMu
Rasa manis dalam iman, ketenangan bersama ihsan
Mata sembab yang menghitung dosa-dosa

Di manakah kini kerinduan itu
Saat diri tak sabar menunggu panggilan dari rumahMu
Tubuh yang gesit dan tak lelah bergerak menghamba
Saat berdegup terasa kasihMu mengalir dalam darah
Saat setiap helaian nafas bersenandung padaMu
Saat tiada dapat dibendung rasa cintaku kepadaMu

Tuhan, kita begitu dekat tapi kadang terasa jauh
Hiruk pikuk seringkali mencabut rasa-rasaku
Timbul tenggelam dalam arus
Terampas, pergi tidak menentu lantas terlindas

Aku hanyalah insan terasing di dunia penuh gemerlap
Di tempat singgah seperti debu di peta jagat
Tak ingin aku terpikat dengan segala tipu muslihat
Kini aku mengerti hanya denganMu ruh ini butuh terikat
Kerinduan hakiki tidak seharusnya terbagi jika rasa tak berujung akhirat


FZ, Denpasar
11/10/16

Rencana Bekerja dan Tinggal di Bali? Ini Gambaran Gaji dan Living Cost di Bali


Tinggal dan bekerja di Bali itu “sesuatu”.  Sebagai salah satu pulau yang eksotis, mayoritas orang senang ke Bali meskipun sekedar plesiran. Tak hanya bagi warga Indonesia, Bali seperti magnet bagi orang-orang asing sehingga sebagian mereka memutuskan pindah hidup dan bekerja ke Bali.  Konon, sebagian orang di luar negeri  sering salah anggapan kalau Indonesia itu adalah Bali.

Tidak hanya terkenal dengan alam yang jernih, bersih dan indah, Bali juga dikenal “luxury”. Bagi sebagian orang, ke Bali adalah kemewahan, kebanggaan dan identik dengan sesuatu yang mahal.   Lantas, bagaimana dengan biaya hidup dan gaji di Bali, apakah juga wah dan sesuatu? Bagi kamu yang belum pernah ke Bali, pernah ke Bali tapi hanya untuk wisata beberapa hari atau ada keinginan bekerja di Bali, mungkin kamu bertanya-tanya berapa living cost dan gaji di Bali.

Biaya sewa rumah atau kost

Dalam pandangan saya, biaya hidup di Bali itu hampir sama dengan tinggal di Jakarta. Saya memang belum pernah tinggal lama di Jakarta tapi saya sering mendengar cerita dari teman dan sahabat yang tinggal di Jakarta.  Saat saya dulu mendapatkan tawaran ke Jakarta, teman saya juga sudah memberikan gambaran biaya hidup secara keseluruhan di ibukota.

Ini terutama terkait dengan biaya sewa kost atau kontrakan. Kost di Bali, khususnya di Denpasar sedikit berbeda dengan Jogja atau Padang. Waktu saya tinggal 4 tahun di Padang dan 6 tahun di Jogja, umumnya kost-kostan satu rumah yang berisi beberapa kamar. Pintu masuk utama satu dan di dalamnya terdapat deretan kamar. Harganya cukup murah.

Di Bali, desain kamar kost seperti rumah petak atau rumah susun. Saya cenderung menyebutnya sebagai rumah kontrakan dibanding kost karena memiliki teras, kamar mandi dan dapur tersendiri. Tidak ada urusan dengan penghuni lain kecuali ketemu di parkiran atau halaman. Di Jogja juga mulai menjamur kost seperti ini tapi masih ada harga sekitar Rp.300.000-Rp.500.000 perbulan di luar listrik. Sementara di Bali, untuk kost rata-rata Rp.750.000-Rp.900.000 perbulan. Kadang belum termasuk biaya listrik dan iuran keamanan dengan ukuran kamar berkisar 4x6 atau 5x7 meter.

Gambaran tersebut dengan fasilitas standar. Khusus untuk kost dengan AC harganya berkisar Rp.1.000.000-1.500.000/bulan. Untuk kost ekslusif sekelas kamar hotel standar, biaya harian sekitar Rp.150.000-Rp.200.000 dan kalau mengambil paket sewa bulanan biasanya berkisar 1.500.000-2.500.000/bulan. Ada beberapa kost yang berharga Rp.500.000 di iklan-iklan tapi sangat sulit ditemukan, lokasinya di rumah-rumah warga.

Untuk biaya makan dan belanja

Memasuki 6 bulan di Bali, untuk biaya makan menurut saya tidak terlalu jauh berbeda dengan Jogja, Jakarta atau pun di kampung saya. Untuk makanan seperti nasi rames, masakan padang, nasi kuning, warteg, soto, bakso, mie ayam, nasi gurih dan sekelasnya, harganya hampir sama.  Harganya sekitar Rp.10.000-Rp.20.000 perporsi tergantung tempat membeli.

Sementara itu, bagi kamu yang lebih senang masak sendiri, biaya masak juga tidak jauh berbeda dengan daerah lain. Saya kadang masak dan kadang membeli di luar. Menurut saya harga bahan pokok, lauk pauk dan sayur mayur hampir sama. Tidak ada perbedaan yang mencolok.

So, berapa anggaran biaya hidup di Bali?

Jika di bandingkan dengan pengeluaran makan saya selama tinggal di Jogja, pengeluaran makan di Bali memang naik 100 %. Di Jogja, kami masak bersama sehingga jauh lebih hemat. Sementara, di Bali saya masak sendiri dan kadang beli makanan yang sudah jadi. Begitu juga untuk biaya kontrakan saya, mengalami kenaikan hampir 100 % dari biaya kontrakan di Jogja.

Rata-rata untuk kebutuhan harian pokok seperti makan dan kost di Bali, saya menghabiskan Rp.1.200.000-Rp.1.500.000 perbulan.  Itu baru kamar kost/kontrakan dan makan pokok. Belum masuk cemilan, biaya internet, pulsa, transportasi dan lainnya.

Gambaran gaji bekerja di Bali

Berdasarkan informasi yang saya peroleh secara langsung dari beberapa lulusan SMA/SMK dan juga lowongan kerja beredar, gaji untuk tamatan SMA/SMK berkisar Rp.1.000.000-Rp.2.000.000. Ini untuk pemula masuk kerja, belum masuk tunjangan dengan posisi kerja seperti waitress, cafe, kerja dengan tugas mendasar di villa, pramuniaga toko dan setingkatnya.

Sementara itu, untuk pekerja kantoran biasa yang baru masuk, untuk lulusan sarjana rata-rata berkisar antara Rp. 3.000.000-Rp.4.000.000. Jika sudah lebih dari 2 tahun bekerja dan menempati posisi strategis gajinya kadang Rp.5.000.000 ke atas.

Sebagian kenalan saya memiliki kerja tambahan, ada yang mengajar privat atau punya usaha. Saya sendiri di Bali, selain bekerja di luar, juga  memiliki pekerjaan menulis sebagaimana yang saya lakoni beberapa tahun terakhir di Jogja. Umumnya, klien menulis saya tidak terikat dengan ruang. Meski perusahaan dan klien saya ada di Makassar, Jogja dan Jakarta, saya bisa menulis di mana saja, di Jogja atau Bali selama terhubung dengan internet. Ya, hitung-hitung untuk membantu survive selama cari pengalaman di Bali.

Catatan : 
  1. Gambaran biaya di atas khusus untuk di Kota Denpasar sebagai pusat ibukota Bali. Sementara itu, untuk wilayah Kuta, Sanur dan lainnya bisa saja hampir sama atau berbeda.
  2. Gambaran gaji di atas adalah untuk di lingkungan saya dan kenalan yang juga bekerja di Bali dengan tempat berbeda. Mungkin juga ada pengecualian tergantung brand perusahaan atau lembaga tempat bekerja. Juga dipengaruhi oleh posisi atau jabatan. Di atas adalah gambaran umum, berdasarkan pengalaman saya, teman yang sudah beberapa tahun tinggal di Bali maupun kenalan yang asli orang Bali.

Meskipun gambaran di atas tidak mewakini secara keseluruhan atau 100 %, paling tidak sedikit bisa menjawab tanda tanya kamu yang akan bekerja di Bali. Terakhir, mahal atau murahnya biaya tinggal di Bali ditentukan oleh selera, gaya hidup dan prinsip hidup masing-masing orang. Tidak hanya di Bali tapi di semua tempat.

Di Jogja misalnya, meski dikenal sebagai kota pendidikan yang murah, bisa saja biaya hidup menjadi tinggi karena seseorang memakai standar tinggi. Gambaran biaya di atas adalah untuk mereka dengan pola gaya hidup sederhana ala saya. Saya sudah berusaha sehemat mungkin, mentoknya biaya hidup memang seperti gambaran tersebut.  Untuk ukuran pendatang yang kerja di Bali, itu sudah standar dan hampir tidak dapat ditawar lagi. []


Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter