Menulis Itu Bisa Jadi Sumber Penghasilan Gak Sih?

Posted by   on Pinterest


Seorang sahabat yang buku perdananya segera diterbitkan oleh GPU, belum lama ini mengirim pesan kepada saya : “mba, menulis itu sebenarnya menghasilkan gak sih?

Hm, sejenak saya termenung dan berpikir maksud spesisik yang diharapkan oleh sahabat tersebut.

Jika buku diterbitkan GPU, otomatis menghasilkan toh? Sudah jelas penulis dapat royalti, terlepas dari berapa jumlah nominal yang diterima. Setelah saya pikir-pikir, mungkin hal yang ingin diketahui  adalah “ apakah menulis bisa menjadi sumber penghasilan?

Sebagaimana yang diketahui, idealnya  mereka yang menulis buku atau artikel akan mendapat bayaran kalau tulisan dipublikasikan. Kalau tulisan terjatuh ke tangan penerbit abal-abal atau menulis secara sukarela, menjadi kontributor tak dibayar misalnya, ya jelas gak menghasilkan :-)

Biasanya, penerbit, koran, majalah maupun portal yang professional, mereka memiliki alokasi dana untuk setiap tulisan yang berhasil dimuat. Namun, tidaklah bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa semua mereka yang menulis dan tulisannya dibayar serta dipublikasikan otomatis menulis sebagai sumber penghasilannya.

Menulis sebagai sumber penghasilan berarti aktivitas menulis menjadi mata pencaharian. Sebagian besar kebutuhan seseorang dipenuhi dari hasil menulis baik itu makan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Dengan kata lain, hasil tulisan menjadi salah satu penopang hidup, seperti halnya hasil bekerja di perusahaan, mengajar, desain, atau berdagang.

Sepanjang perjalanan karier saya menulis, umumnya mereka yang menulis dan terhubung dengan media yang kredibel memang menghasilkan. Apakah penghasilan mereka kontiniu? Inilah yang poin utamanya. Secara garis besar saya menyaksikan tiga kelompok penulis jika dikaitkan dengan penghasilan.

Pertama, penulis tidak berpenghasilan. Penulis ini merupakan kelompok yang menulis tetapi tidak diterbitkan tulisannya. Ya, mungkin hanya sekedar menyalurkan waktu senggang atau hobi saja. Hasil tulisan hanya ingin dinikmati sendiri. Tak ada niat dibaca banyak orang. Bisa juga bermaksud menulis untuk diterbitkan tetapi tidak berhasil menembus penerbit atau media.

Mereka yang menulis sebagai sukarelawan termasuk dalam kelompok ini. Selain itu, juga mereka yang pernah memiliki beberapa karya buku tetapi sudah tidak produktif lagi dan juga tidak ada royalti. Mereka masih dikenal sebagai penulis tetapi tidak ada duitnya, hanya tinggal nama. Jadilah penulis yang tidak berpenghasilan. Tidak berpenghasilan dari menulis maksudnya tapi mungkin ada penghasilan dari bidang lain.

Kedua, penulis dengan penghasilan musiman. Disebut musiman karena memang tidak menentu atau tidak tetap. Penulis ini mendapatkan penghasilan di setiap kali tulisannya dimuat atau setiap pembayaran royalti. Mungkin 3 bulan sekali, 6 bulan sekali atau 1 tahun sekali. Menulis mungkin dimaksudkan hanya sebagai bentuk aktualisasi diri dan ingin punya karya.

Sementara, mereka memiliki pekerjaan lain sebagai sumber penghasilan. Hasil menulis hanya sebagai tambahan penghasilan utama saja. Misalnya dosen, guru, hakim, psikolog, dokter atau mereka yang memiliki profesi lainnya yang memiliki kemampuan menulis tetapi menulis hanya sebagai aktivitas pendukung untuk meningkatkan karier. Mereka yang bergelut dalam dunia akademik biasanya kenaikan jabatan dipengaruhi oleh karya mereka, salah satunya dalam bentuk tulisan.

Meski cenderung musiman dan tidak tetap, hasil yang diperoleh juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Mungkin mereka hanya menulis 3-6 buku dalam setahun tetapi hasilnya bahkan bertahun-tahun dinikmati.

Ketiga, penulis dengan penghasilan bulanan. Saya menemukan ada penulis yang memang membiayai kebutuhan harian dari hasil menulis . Mereka ada yang bekerja di perusahaan media sebagai karyawan tetap. Ada juga yang bekerja di perusahaan media, penerbitan dan majalah sebagai penulis freelance tapi pundi-pundi mereka mengalir setiap bulan.

Saya punya kenalan A, sesama penulis artikel online dimana dia memiliki penghasilan 4-5 juta setiap bulannya. Si B, kenalan saya sesama penulis naskah buku di penerbitan juga memiliki penghasilan sekitar 24-48 juta pertahun atau rata-rata 2-4 juta setiap bulan.

Banyak orang yang menyebut mereka yang berada dalam kategori ketiga ini dengan istilah penulis profesional atau seseorang yang menjadikan menulis sebagai profesinya.  Mereka cenderung memakai prinsip writerpreneur yaitu menulis lebih bertujuan sebagai pekerjaan dan "bisnis" bukan karena ingin punya karya semata.

Menulis adalah ladang penghasilan. Tak heran ada yang memiliki self publishing sendiri dan tiap bulan menerima laporan penjualan bukunya. Ada juga yang membuka training penulisan, jasa penulisan surat resmi dan sebagainya. Perlu diingat ada beberapa perbedaan antara writer dan writerpreneur.

Catatan :
Terkait pembahasan ini terdapat pengecualian yaitu kelompok penulis yang “tidak umum” seperti penulis buku ternama. Ini termasuk kejadian langka, yang bisa dihitung jari berapa penulis yang mengalaminya. Tak perlu dipertanyakan lagi penghasilan mereka. Tulisan ditunggu-tunggu penerbit, penjualan laris manis, rutin menulis buku bahkan diangkat ke layar lebar, bayangkan berapa rupiah yang masuk ke rekeningnya. Ini mah bukan menulis sebagai sumber penghasilan lagi, tapi sudah banjir penghasilan :-)

***
Bagi yang belum termasuk dalam penulis yang “tidak umum” seperti itu dan ingin hidup dari menulis, salah satu pilihannya adalah menjadikan menulis sebagai pekerjaan utama atau menjadi penulis profesional.

Nah, pertanyaannya, saat ini sahabat posisinya di kelompok mana dan mau dibawa kemana karier menulisnya? Sebagai seseorang yang ingin punya karya dan dikenal sebagai penulis saja atau menulis sebagai sebuah profesi?


----------Yogyakarta, 09/10/15


*  Ilustrasi menulis dan uang. Photo via softsupplier

1 komentar:
Write komentar
  1. Hallo kak..menarik sekali ya tulisannya. Kak aku punya hobi menulis tapi mungkin aku belum sanggup menamai diriku penulis, masih jauh dari kriteria dikatakan penulis, jika terpaksa dikatakan penulis mungkin aku jenis yang pertama.
    Nah aku kadang berfikir kak, kenapa hobiki menulis toh nggak menghasilkan seperti hobi lainnya seperti desig atau melukis. Sempet minder dengan itu, tapi setelah baca ini aku tertarik untuk menjadikan hobiki bermanfaat buat aku.
    Tapi setau aku,penulis itu punya jenis masing-masing. Ada yang sukanya nulis novel, cerpwn, puisi atau buku. Aku suka menulis puisi. Tulisan yang mungkin hanya terdiri dari beberapa bait. Nah kak, kalau untuk tulisan semacam itu kita nggak bisa terbitkan dong ya. Nah adakah solusi kak, untuk kasus pecinta puisi yang juga ingin berpenghasilan dari hobi menulis puisinya ? Terimakasih
    Jika kakak berkenan menjawab bisa ke email saya arifahtrijayanti@gmail.com

    BalasHapus

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter