Pengalaman Pertama Naik Bus Sendiri dari Jogja ke Bali, Seru Tapi Mendebarkan

Posted by   on Pinterest


Pengalaman naik bus dari Jogja ke Bali ini sebenarnya sudah lama ingin saya tulis tapi baru ada kesempatan sekarang. Berhubung merupakan pengalaman pertama mengadakan perjalanan darat antar pulau seorang diri, jadi memang berkesan hingga hari ini. Saat pertama ke Bali saya tidak naik bus melainkan membeli tiket pesawat Air Asia. Baru bekerja di Bali saya kemudian dihadapkan pada dilema mudik lebaran. Awalnya saya ragu apakah akan mudik lebaran ke Jogja atau tidak.


Satu sisi ingin berkumpul dengan adik-adik di Jogja. Di lain sisi ingin biaya untuk pulang ditabungkan saja karena baru 3 bulan menginjakkan kaki di Bali, kalau tidak pulang rasanya tidak apa-apa. Namun, karena kantor memberikan cuti lebaran sekitar 10 hari, akhirnya saya pun berubah pikiran. Ketika pulang ke Jogja menjelang lebaran saya juga naik pesawat tapi bukan Air Asia lagi melainkan Lion Air. Sebelumnya sempat nanya-nanya bagaimana cara pulang dari Bali ke Jogja jalur darat tapi saya urung karena dapat tiket pesawat murah.


Tak disangka ketika hendak kembali ke Bali harga tiket pesawat terus merangkak naik padahal sudah seminggu lebih pasca lebaran. Biasanya sudah mulai ada penurunan harga tiket tetapi saat itu masih belum ada tanda-tanda. Beberapa hari saya pantau dari siang hingga dini hari, tiket pesawat tetap mahal. Sementara itu, saya sudah harus kembali masuk kantor. Tiba-tiba kembali muncul di pikiran, kenapa tidak mencoba naik bus saja?


Apalagi kalau dibandingkan selisih harga antara bus dan pesawat memang lumayan besar, cukuplah dijadikan buat sewa kontrakan 1 bulan. Memang sih dari segi waktu kita lebih efisien dan efektif naik angkutan udara. Lama perjalanan dari Jogja ke Bali dengan pesawat jauh lebih cepat, hanya memakan waktu sekitar 1 jam 10 menit kalau tidak ada delay. Sementara itu, dari Jogja ke Bali naik bus menghabiskan waktu sekitar 15-20 jam perjalanan. Umumnya berangkat malam hari dan sampai di Bali pagi menjelang siang. Sekian lama duduk di bus, tidak bisa dihindarkan dari jetlag.


Meskipun begitu, motivasi terbesar saya naik bus sebenarnya adalah rasa penasaran. Seperti apa sih rasanya naik bus pariwisata, bus malam, bus besar executive?Seperti apa ketika melewati Selat Bali naik kapal feri?


Disamping itu, saya ingin sekali punya pengalaman baru supaya saya tahu benar bagaimana proses, tahap perjalanan serta perkiraan biaya agar bisa memberikan gambaran buat adik-adik dan teman saya yang berencana wisata ke Bali melalui jalur darat. Saya juga sedikit tertantang untuk melakukan sebuah petualangan, menguji adrenalin.


Kalau naik pesawat melulu yang ada hanyalah kenyamanan dan terbiasa memanjakan diri. Kapan lagi mencoba perjalanan yang menuntut keberanian dan keluar dari comfort zona?Perjalanan yang memberikan pengalaman unik dan sulit dilupakan.


Jalur Darat Jogja ke Bali, Pilih Naik Kereta atau Bus?


Eh, dulu saya pikir ada kereta api langsung lho ke Bali. Sempat mencari di Google layanan kereta api dari Jogja ke Bali. Lupa kalau antara pulau Jawa dan Bali dipisahkan oleh laut. Rute yang benar jika ingin ke Bali dari Yogyakarta adalah naik kereta api di Stasiun Lempuyangan menuju Banyuwangi. Biasanya ada dua pilihan stasiun yaitu Banyuwangi Kota dan Banyuwangi Baru. Kalau ingin mencapai pelabuhan Gilimanuk, lebih dekat berhenti di stasiun Banyuwangi Baru. Nantinya kamu naik kapal feri untuk menyeberang ke Bali dengan biaya tiket sekitar Rp.10.000.


Namun, sekarang tersedia pilihan rute Lempuyangan-Ketapang, saya lihat di website resmi PT.KAI sudah tidak ada pilihan stasiun Banyuwangi Baru yang ada hanyalah Banyuwangi Kota dan Ketapang. Soal harga, mengacu ke website resmi PT.KAI tiket Jogja ke Banyuwangi pada tahun 2020 ini masih sama dengan tahun sebelumnya yaitu Rp.94.000. Oya, jika ingin naik kereta ini kamu akan menghabiskan waktu sekitar 13,5 jam perjalanan dengan kereta api Sri Tanjung.


Dari segi waktu tidak jauh beda antara naik kereta atau bus. Sementara itu, kalau dibandingkan dari segi biaya, sekilas naik kereta api kelihatan lebih murah dan hemat. Namun, kalau memilih naik bus atau kereta, saya lebih merekomendasikan naik bus terutama untuk para wanita yang solo traveling dan pemula. Kenapa? Kalau ditelusuri lebih dalam, sebenarnya biaya yang dikeluarkan hanya selisih sedikit. Belum lagi kalau dilihat dari efisiensi dan efektifitas, menurut saya lebih beruntung naik bus. Kalau naik kereta, jadwal yang ada hanya berangkat pagi dan sampai di Banyuwangi malam hari sekitar jam 21.00 WIB.


Bayangkan dini hari mau ke Bali sendirian, agak ngeri bukan? Mungkin muncul ide menunggu hari pagi dan mencari penginapan, tapi harus mengeluarkan biaya lagi. Jika nekat memacu adrenalin dengan berjalan kaki ke pelabuhan Ketapang di remang malam, perlu diketahui bahwa penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk hanya memakan waktu sekitar 1-1,5 jam tergantung gelombang air laut. Artinya, kamu akan tiba di Bali tetap dini hari. Itu baru sampai di Gilimanuk, berikutnya kamu pun harus mencari angkutan untuk menuju tujuan. Biasanya juga tidak bisa langsung tapi harus singgah dulu di terminal Ubung baru kemudian mencari angkutan rute sesuai alamat.


Biarlah rugi sedikit naik bus  daripada berhadapan dengan resiko dan konsekuensi yang lebih besar. Memang dari segi harga naik bus agak mahal tetapi kita tidak perlu naik turun angkutan atau gonta ganti kendaraan yang pastinya ribet. Naik bus kita bersama penumpang yang sama dari Jogja hingga ke Denpasar, walau sendirian kita memiliki semacam grup perjalanan. Minim resiko keamanan, lebih nyaman dan rasa capek perjalanan tidak separah naik kereta sambung angkutan beberapa kali. Naik kereta memang memberikan sensasi berbeda tapi harus mandiri mencari rute angkutan berikutnya.


Membeli Tiket Bus Gunung Harta Jogja ke Bali secara Online, Harga, Rute, Jadwal dan Fasilitasnya.

Bus Gunung Harta (Sumber foto : official website Gunung Harta)

Tahap pertama mencapai Bali melalui jalur darat adalah naik bus rute Jogja ke Terminal Ubung. Saya kemudian mencari informasi di mesin pencari tentang bus apa saja yang beroperasi ke Bali. Ada beberapa bus sih tetapi setelah melakukan riset, saya menjatuhkan pilihan pada bus Gunung Harta karena bus ini menurut saya sudah selangkah lebih maju. Tiket bus bisa dipesan secara online.


Saya mencoba melakukan pengecekan di website resmi bus Gunung Harga dan di sana ternyata terdapat informasi mengenai kursi mana saja yang sudah terisi, sudah berapa orang penumpang dan kursi mana saja yang masih kosong. Artinya, saya bisa langsung memilih tempat duduk dari rumah. Saya mengapresiasi bus Gunung Harta ini karena sudah go online, tidak jauh beda dengan cara pembelian tiket pesawat online. Di websitenya juga tersedia pilihan dimana saya akan naik. Apakah saya akan naik di Terminal Giwangan Yogyakarta atau di jembatan layang Janti Yogyakarta.


Banyak yang mencari informasi tentang berapa lama bus dari Jogja ke Bali. Pas saya berangkat dulu, jadwal bus berangkat dari Yogyakarta sekitar jam 5 sore dan saya sampai di kontrakan di Denpasar Selatan sekitar jam 10 pagi. Jadi, kurang lebih perjalanan dari Jogja ke Bali naik bus menghabiskan waktu sekitar 17 jam lebih. Ada yang lebih cepat dan lama dari itu tergantung kondisi bus dan situasi.


Harga tiket pada waktu itu Rp.460.000 sudah termasuk asuransi Jasa Raharja. Kalau sekarang tahun 2020 dalam keadaan normal, bukan masa mudik lebaran dan liburan, harga tiketnya sekitar Rp.270.000 untuk sekali jalan. Oya, menurut saya bus tersebut lumayan bagus dan nyaman karena terdapat fasilitas seperti AC, audio, TV, toilet, USB charger dan ruangan khusus merokok.


Setiap penumpang juga mendapatkan fasilitas makan prasmanan di sebuah rumah makan dan snack beserta air minum. Saat berkunjung ke websitenya, ternyata bus Gunung Harta ini sudah beroperasi lebih dari 15 tahun. Jika kamu tertarik naik bus ini, sebaiknya membaca informasi terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli tiket. Kamu bisa berkunjung ke https://www.gunungharta.com/ atau di https://www.traveloka.com/id-id/tiket-bus-travel/gunung-harta atau membaca review para blogger khusus bus Gunung Harta.


Naik Ojek dari Terminal Ubung ke Denpasar


Tahap kedua, setelah sampai di terminal Ubung kemudian perlu melanjutkan ke tujuan misalnya saya ke Denpasar Selatan. Sebenarnya ada beberapa pilihan transportasi dari terminal Ubung menuju Denpasar yaitu naik Sarbagita, naik ojol, taksi dan ojek konvesional. Sarbagita merupakan angkutan kota ber AC dengan beberapa rute seperti Trans Jogja, Batik Solo atau pun Trans Jakarta. Biasanya rute mobil seperti itu agak lama karena berhenti dulu di beberapa shelter. Saya pun memilih naik ojek biasa dengan tarif sekitar Rp.25.000.


Oya, entah karena dalam suasana mudik lebaran, saya agak kaget karena begitu turun dari bus langsung disambut oleh sejumlah aparat berpakaian polisi dan petugas yang memakai seragam pemerintah daerah. Katanya, setiap orang yang masuk ke Bali didata terlebih dahulu dengan menunjukkan KTP. Di samping itu, juga ada sedikit wawancara mengenai tujuan ke Bali. Kita diminta menuliskan nomor KTP, nomor HP beserta keperluan di Bali di kertas yang telah disediakan.


Kesan Pribadi Naik Bus dari Jogja ke Bali


Berdasarkan pengalaman pertama naik jalur darat menggunakan bus dari Yogyakarta ke Pulau Dewata, saya merasa begitu antusias bercampur khawatir. Senang sih karena seperti berpetualang dan menantang. Akan tetapi karena tidak bersama keluarga atau teman, ada rasa harap-harap cemas ketika dalam perjalanan. Namun, setelah sampai di Bali saya sangat lega dan bersyukur dapat pengalaman baru.


Saya agak sedikit capek dan kurang fit  lantaran kurang tidur. Saya tipikal susah tidur kalau dalam perjalanan. Meski demikian, pengalaman tersebut sangat berkesan. Saya masih yakin dan merencanakan kembali ke Bali naik bus di masa mendatang. Saya ingin dari Jogja ke Bali naik bus dan pulangnya naik pesawat. Akan tetapi tidak sendirian melainkan bersama keluarga. Tentu lebih rame dan seru dibanding berangkat sendiri seperti dulu.


Dari segi bus Gunung Harta alhamdulillah tidak ada kendala selama dalam perjalanan. Kondisi bus dalam keadaan baik, sopir juga tidak ugal-ugalan dan lumayan ramah. Saya membaca ada pihak sopir dan bus yang seperti bekerjasama atau mentolerir calo, alhamdulillah ketika naik Gunung Harta saya tidak mengalami. Semua aman terkendali dan nyaman. Jika saya jadi ke Bali nanti, insaallah akan membeli kembali tiket bus Gunung Harta ini.


Tiket yang bisa dibeli secara online melindungi penumpang dari oknum yang kurang bertanggungjawab atau memanfaatkan situasi. Bahkan sekarang Gunung Harta sudah bekerja sama dengan Traveloka. Selain membeli di website dan aplikasi resmi, kamu juga bisa membeli di Traveloka dan mungkin juga ada di situs penjualan tiket lainnya.


Saat saya memesan tiket, pihak Gunung Harta mengirimkan informasi pembayaran dan setelah itu saya mendapatkan e-tiket masuk ke email. Di e-tiket jelas mengenai jam keberangkatan, nomor kursi dan juga ada kontak yang bisa dihubungi. Hal ini membuat saya merasa lebih aman dibanding naik bus yang hanya memberikan kwitansi pembayaran saja, yang tidak mendata penumpang.


Tips Bagi yang Pertama Naik Bus dari Jogja ke Bali



Bagi kamu yang berencana naik bus dari Yogyakarta ke Bali, ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan. Tips berikut ini berdasarkan pengalaman saya dan semoga bermanfaat.



Pertama, pastikan sudah membawa kartu identitas. 

KTP memang tidak diminta ketika membeli dan naik bus. Namun, bukan berarti kamu boleh lalai. Bagi kamu yang berencana ke Bali meski naik bus tetap wajib membawa kartu identitas. Jangan sampai ketinggalan agar tidak diusir oleh tim gabungan yang melakukan pemeriksaan data para penduduk yang datang ke Bali.

Saya baca di berita, pemeriksaan dan pendataan tersebut mulai diperketat dari tahun 2016 hingga sekarang. Bertujuan untuk mengantisipasi adanya pendatang secara ilegal ke Bali. Bagi mereka yang tidak memiliki KTP dan surat keterangan akan dipulangkan kembali ke daerah asal.


Kedua, membawa kain untuk selimut dan bantal. 

Saya kurang ingat tetapi rasanya pada waktu itu bus belum menyediakan selimut dan bantal. Mungkin saya naik bus patas AC biasa karena setelah saya baca lebih teliti, bus Gunung Harta ini memiliki beberapa kelas seperti super eksekutif dan VIP.

Bagaimanapun, fasilitas bus sesuai pilihan kelasnya. Atau mungkin saya yang kurang ngeh. Terlepas dari itu, tidak ada salahnya membawa kain selimut dan bantal sendiri untuk jaga-jaga. Terlebih kamu yang suka memakai peralatan sendiri daripada fasilitas umum.


Ketiga, membawa makanan dan minuman cadangan. 

Tips ini ditekankan kepada kamu yang memiliki masalah dengan pencernaan semisal asam lambung. Makanlah sebelum berangkat karena bus tidak berhenti di sembarang tempat. Pihak bus memberikan fasilitas makan prasmanan satu kali dan juga beberapa snack maupun air minum. Namun, bisa saja menu yang ada kurang sesuai dengan selera kamu atau malah kurang dari porsi kamu biasanya.


Keempat, mengenali mobil dan penumpang. 

Ketika kamu naik bus nanti akan ada bus yang sekilas kelihatan mirip dari segi fisik dan warna maupun merek. Terlebih ketika naik kapal feri, banyak bus yang parkir di sana. Jangan sampai dalam setengah mengantuk kamu nyasar ke bus lain. Cobalah mengingat letak bus dan menandai beberapa penumpang. Atau kamu bisa mengenali sopir, melihat nomor plat bus dan mengambil foto biar gampang.


Kelima, hati-hati dengan calo nakal baik di kapal feri maupun terminal. 

Dari cerita-cerita yang ada, percaloan masih merajalela di mana-mana. Mulai dari yang biasa hingga kasus ekstrem yang berujung dengan kepolisian. Kita memahami mereka yang berprofesi sebagai calo karena ingin berusaha menafkahi keluarganya. Untuk calo-calo yang bijak yang tidak memaksa mungkin bisa ditolerir namun calo-calo nakal lagi bersikap kasar meski diwaspadai. Jika kamu tidak naik bus Gunung Harta, saat kamu memilih bus lain pastikan telah membeli di kantor resmi atau sebaiknya bisa dibeli online. Ini berguna agar kamu tidak terjebak pada rute dan harga yang manipulatif karena ulah calo.


Keenam, menyimpang barang bawaan di tempat yang aman. 

Sedapat mungkin ketika ke Bali kamu tidak membawa banyak barang biar tidak ribet. Misalnya satu ransel punggung dan satu tas jinjing sehingga bisa diletakkan di bagian atas bus. Membawa barang yang agak banyak biasanya diletakkan di bagasi bawah dimana ada kemungkinan terlupa dan rasa khawatir apakah aman.

Selain itu, pisahkan barang-barang yang diletakkan di tempat tas dan barang-barang yang ditaruh di tempat duduk sendiri. Jangan menaruh HP, dompet, laptop dan perhiasan di bagasi. Terus jaga dan cek barang baik selama proses perjalanan hingga sampai di tujuan. Pihak bus menyerahkan tanggung jawab penuh soal barang pribadi kepada penumpang dan bus tidak bertanggung jawab jika terjadi kehilangan maupun kerusakan.


Ketujuh, menyimpan data pembelian tiket. 

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, simpanlah etiket bus di tempat yang aman. Jika ada yang mengklaim tempat duduk pilihan kamu, kamu punya bukti untuk menyanggah. Juga ketika ada pemeriksaan dari petugas bus atau ada pihak yang bertanya, kamu dapat menunjukkan bukti bahwa kamu telah melakukan pembelian dan pembayaran secara online.


Kedelapan, jika dijemput keluarga atau ojek online sebaiknya berjalan kaki keluar dari terminal. 

Sebagian calo maupun ojek konvensional agak sensitif dengan layanan transportasi online baik ojek maupun taxi. Kadang keluarga penumpang yang datang menjemput malah dikira taksi gelap dan tak jarang menimbulkan baku hantam. Mereka merasa bahwa terminal adalah wilayah mereka mencari rezeki sejak dulu. Jangan heran kalau terjadi penolakan dengan ojol dan rasa curiga dengan mobil keluarga yang menjemput.


Tips Tambahan Khusus Wanita yang Solo Traveling


Pertama, menjaga adab baik dalam berpakaian. 

Bagi yang selama ini tidak ambil pusing atau kurang peduli dengan pakaian mungkin bisa dipertimbangkan kembali pemakaiannya jika hendak bepergian. Sebaiknya disesuaikan dengan keperluan dan situasi. Terlebih jika pergi seorang diri, hal yang dianggap kebebasan pribadi seperti cara berpakaian bisa saja menjadi bumerang lho buat diri sendiri.
Walaupun niat saya naik bus sendirian untuk uji nyali, entah mengapa rasa takut terus menghampiri.


Ketakutan saya naik bus sendirian sebenarnya dari segi keamanan terlebih karena saya wanita. Bagaimana kalau ada laki-laki yang berniat jahat? Berita di media cetak dan televisi yang menayangkan berbagai tindak kejahatan terus terbayang-bayang. Kemudian saya mencoba berpikir jernih, sebuah kejahatan mungkin kadang tidak ada niat dari pelaku tapi karena ada kesempatan. Jadi, langkah pertama saya mencoba menjaga adab berpakaian, tindakan preventif.


Setelah saya pelajari ternyata yang naik bus itu lumayan banyak. Apalagi pada peak season lebaran, bus hampir penuh oleh penumpang. Jadi, selagi saya masih bergabung dengan penumpang lain dan tidak memisahkan diri saat istirahat insaallah menurut saya aman. Benar saja, setelah naik bus saya menemukan lumayan banyak penumpang dari kaum hawa. Tidak hanya warga lokal tapi orang asing pun banyak yang berminat naik bus tersebut. Saya menyimpulkan bahwa itu salah satu bukti bahwa perjalanan dengan bus lumayan aman dan nyaman selama masih menjaga diri.


Kedua, membatasi komunikasi dengan orang yang baru dikenal. 

Kita tidak pernah tahu kapan terjadinya sebuah kejahatan. Namun, sebagian besar kejahatan terjadi karena ada celah bagi pelaku. Begitu juga, kita tidak bisa memastikan orang yang baru dikenal adalah orang baik. Bukan berprasangka buruk tapi agar bersikap pertengahan, sewajarnya. Sebaiknya, batasi komunikasi dan informasi pribadi kepada mereka yang dikenal di atas bus. Juga jangan sembarang menerima pemberian orang yang ditemui di perjalanan. Mungkin kamu pernah mendengar ada kasus penumpang yang diberi air minum oleh orang tidak dikenal dan ternyata itu berisi zat kimia yang membuatnya tertidur. Alhasil barang berharganya digasak oleh si penipu.


Pada waktu itu, kebetulan saja ternyata saya duduk berdampingan dengan seorang pria muda. Pria tersebut sempat nanya ini itu termasuk soal kerja saya di Bali dan apakah saya sudah punya pasangan. Jadi, saya mencoba untuk tidak banyak bicara. Meladeni dan menjawab sekenanya saja. Selain itu, saya juga membawakan diri seolah-olah saya sudah sering naik bus dari Jogja ke Bali. Seperti orang yang sudah berpengalaman walaupun hanya berbekal informasi yang didapat di search engine. Cara ini selalu saya pakai jika saya menjadi pendatang baru di sebuah kota atau tatkala kurang menguasai sebuah wilayah. Kalau bersikap bengong dan celingukan bisa-bisa kita jadi santapan mereka yang memanfaatkan keadaan bukan?




Tidak ada komentar:
Write komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter