Mojok di Kampung Pojok

Posted by   on Pinterest

Adakalanya dalam hidup kita ngalami keadaan ora iso mangan, ora iso turu, ora iso mikir dan ora iso kerjo.
Penyebabnya?
Ya, gado-gado.

Saya ingat kata salah satu kenalan saya dari Wonosobo kalo hidup itu anugerah.  Jadi, hidup harus disyukuri. Pun begitu, salah satu sahabat saya sesama Sumatera juga mewanti-wanti agar hidup ini bisa dinikmati seperti nikmatnya secangkir kopi di pagi hari.

Nah, kalo hidup itu anugerah saya cocok bingit. Tapi kalo pendapat sahabat yang kedua, saya jadi ketawa ketiwi sendiri. Gimana mau menikmati hidup seperti nikmatnya secangkir kopi?
Lha, wong saya gak doyan-doyan amat sama yang namanya kopi.

Kalau gak kopi, “saudara kopi” (teh) lah tapi lambung ini ogah juga. Di pagi hari saya sukanya to the point aja (sama nasi maksudnya). Eeeeit, hati-hati, jangan mikir ya sejak kapan teh jadi saudara kopi, ntar bisa jadi pusing pala berbi lho :-)

Trus, gimana caranya?
Beberapa waktu yang lalu saya sempat mampir di sebuah situs dengan domain MOJOK gituuuu, di sana saya kepincut sama kata-kata ini “ bahwa sesungguhnya mojok adalah hak segala bangsa, baik yang sudah mandi maupun yang belum.

Aha, pucuk dicinta ulam pun tiba.
Saya pun tiba-tiba kepikiran mojok. Tapi tentunya sebelum mojok saya sudah mandi ya :-)

Ehm, mojok dalam benak sebagian orang identik dengan sesuatu yang negatip. Saat bilang mojok, saya kena getahnya juga. Alamak, saya dipikir mau negatipan-negatipan juga padahal mojok bagi saya merupakan kebutuhan jiwa. Salah satu cara menikmati hidup dan melihat kembali nikmat dari Yang Kuasa. Jelas, bukan sembarang mojok.

Mojok ala saya itu menyendiri atau pergi seorang diri. Istilah mojok identik dengan menjauh dari keramaian tetapi saya sedikit berbeda. Saya mojok tidak hanya di tempat yang sepi tapi adakalanya mojok di tempat yang rame. Kendati begitu, di mana pun mojoknya, mottonya tetap satu yaitu TERANG.
TERANG pikiran.
TERANG hati.
TERANG penglihatan
Mudah-mudahan TERANG masa depan.

Mojok ala saya juga sangat sederhana. Biasanya saya naik Trans Jogja malam hari di shelter Malioboro 1-Prambanan-Shelter Malioboro 2 dari jam 19.00-20.30 WIB. Alhamdulillah sejauh ini, saya memang kebagian terus dapat tempat duduknya di pojok.  Habis keliling naik TJ, saya tutup dengan semangkok bakso atau sepiring sate di kawasan Dagen. Kadang ikutan ngantri es krim coklat MD di pojok Malioboro Mall.

Selain itu, beberapa kali saya juga mojok di XXI, Ambarukmo Plaza. Tetap seorang diri tanpa ajak sana sini. Di bioskop, saya cenderung nonton film tentang perjuangan hidup. Nonton kisah Merry Riana Mimpi Sejuta Dolar, misalnya.

Pengen ganti suasana mojok, saya pun naik KA Prameks ke Solo. Setelah beberapa kali oper bis dengan menghabiskan waktu sekitar 3 jam,  saya sampai di sebuah kampung pojok di salah satu sudut Kabupaten Boyolali. Saya sebut kampung pojok karena memang sudah tidak ada lagi jalan setelah tempat saya mojok. Ke sononya tinggal hutan.

Ketika saya mojok di kampung pojok,  pikiran jadi enak.
Tidur enak.
Makan enak.
Hati juga enak.
Semuanya terasa serba enak.
Lho, kok bisa?
Mungkin karena saya telah kembali ke habitat saya kali ya :-)

Di kampung pojok, sehabis mata memandang, hanya ada pohon jati bergoyang.
Udaranya asri bikin hati berseri.
Mandinya juga asik nyebur di kali.



Hm, jadi merasakan kembali masa-masa kanak-kanak. Mbolang dikit gitulah.

Juga ada satu hal yang bikin jiwa lebih greget yaitu kesederhaaan hidup di kampung pojok. Terasa betul kalo urip kudo roso.

Mojok memang bisa menguatkan jiwa.
Itu mah kalo mojoknya positip. Nah, kalo mojoknya negatip bukannya menguatkan jiwa tapi malah melemahkan dan merusak jiwa. Wajib setuju ya Sob?

Bagaimana dengan motto mojok saya, yang TERANG itu?

 “ Bu, saya pamit pulang nggih? Berkat mojok di sini hidup terasa indah dan lebih berarti. Saya sudah siap bertempur kembali dengan perjuangan hidup.
Lho, kok cuma beberapa hari. Mbok sebulan mojoknya di sini biar ibu ada temanne. Piye wes mojok rene nduk? Wes padang urung ati dan pikiranne? ” ibu menggoda saya.
Yo wes lah bu, kan dari sononya Padang bu,” saya membalas godaan ibu.
Ha..ha, iya lali...

------------------FZ
Yogyakarta, 16/10/15


Tidak ada komentar:
Write komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter